home

Minggu, 04 Maret 2012

Dengan nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang. Segala puji dan syukur bagi Allah swt yang dengan rido-Nya kita dapat menyelesaikan makalah ini dengna baik dan lancar. Sholawat dan salam tetap kami haturkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad saw yang dengan do'a dan bimbingannya makalah ini dapat terselesaikan dengan lancar. Dalam makalah ini, penulis akan menguraikan tentang pendekatan di dalam memahami agama-agama yang kita ambil dari berbagai sumber yang kami baca. Makalah ini diharapkan bisa menambah wawasan dan pengetahuan yang selama ini kita cari. Berbagai teknik dan intrik kami kemas dalam laporan ini, dan juga kami berharap bisa dimafaatkan semaksimal mugkin.

Sebagai mahasiswa saya mengharapkan bimbingan, bantuan, saran dan dukungan dari Bapak Ibu dosen serta pihak lain agar makalah ini bisa berhasil dan berguna bagi kita semua. Amin.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Stimik Amikom Yogyakarta. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jau dari sempurna. Untuk itu,  kepada  dosen  pembimbing  saya  meminta  masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah  saya  di  masa  yang  akan  datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Yogyakarta,16 Januari 2012
   Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Pengertian  pendidikan  karakter
Apakah pendidikan karakter itu? Pertanyaan pendek ini bisa memunculkan jawaban panjang dan beragam. Bahkan tak mustahil menjebak kita ke dalam kumparan definisi yang rumit, silang argument yang memancing selisih pendapat. Walaupun pertanyaan itu melahirkan sederet pengertian, namun semua pasti sepakat dalam satu hal yaitu betapa pentingnya pendidikan karakter bagi pengembangan generasi dan masyarakat Indonesia.
Sejalan dengan hal itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, menegaskan bahwa tidak ada yang menolak tentang pentingnya karakter, “Tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana menyusun dan menyistemasikan, sehingga anak-anak dapat lebih berkaraakter dan lebih berbudaya,” katanya pada suatu kesempatan.
Dalam realitas di lapangan sebenarnya diam-diam pendidikan karakter sudah banyak diterapkan di berbagai sekolah di Indonesia meskipun mereka tidak khusus atau tidak secara eksplisit menyatakan bahwa yang mereka lakuakan adalah pendidikan karakter. Ada sekolah yang menyebutnya sebagai pendidikan nilai-nilai kemanusiaan, ada yang menyebut dengan pembinaan akhlak, bahkan ada yang tida memberi label sama sekali.
Beberapa sekolah unggulan dan sekolah alternatif di kota-kota besar telah berupaya menyelenggarakan pendidikan karakter dengan berbagai variasi dengan mempertimbangkan konteks dan kebutuhan lingkungannya, Bahkan pondok pesantren dan sekolah berbasis agama lainnya sudah lama mengembangkan pembinaan mental spiritual sehingga mampu melahirkan alumni yang berkepribadian dan beriman kuat.
Sebagai suatu konsep akademis, karakter memiliki makna substansif dan proses psikologis yang sangat mendasar. Aristoteles menyebut pengertian karakter yang baik adalah kehidupan berperilaku baik dan penuh kebajikan, berperilaku baik terhadap pihak lain (Tuhan Yang Maha Esa, manusia, dan alam semesta), dan terhadap diri sendiri.
Karakter terdiri dari tiga unjuk perilaku yang saling berkaitan yaitu tahu arti kebaikan, mau berbuat baik, dan nyata berperilaku baik (Lickona, 1991:51). Ketiga substansi dan proses psikologis tersebut bermuara pada kehidupan moral dan kematangan moral individu. Dengan kata lain, karakter dapat dimaknai sebagai kualitas pribadi yang baik.
Menurut dokumen Desain Induk Pendidikan Karakter terbitan Kementerian Pendidikan Nasional, pendidikan karakter didefinisikan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengambil keputusan yang baik, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Yang jelas pendidikan karakter selayaknya dikembangkan dengan pendekatan terpadu dan menyeluruh. Efektivitas pendidikan karakter tidak selalu harus dengan menambah program tesendiri, melainkan bisa melalui transformasi budaya dan kehidupan di lingkungan sekolah. Melalui pendidikan karakter semua berkomitmen untuk menumbuhkembangkan peserta didik menjadi pribadi utuh yang menginternalisasi kebajikan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Hingga saat ini, secara kurikuler telah dilakukan berbagai upaya untuk menjadikan pendidikan lebih bermakna bagi individu, tidak sekedar member pengetahuan (kognitif), tetapi juga menyentuh tataran afektif dan psikomotor melalui mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan Olahraga.
Namu harus diakui semua itu belum mampu mewadahi pengembangan karakter secara dinamis dan adaptif terhadap pesatnya perubahan. Oleh karena itu pendidikan karakter perlu dirancang-ulang dalam wadah yang lebih komptrehensif dan lebih bermakna. Pendidikan karakter perlu diformulasikan dan direoperasonalkan melalui transformasi budaya dan kehidupan satuan pendidikan.
Secara kejiwaan dan sosial budaya pembentukan karakter dalam diri seseorang merupakan fungsi dari seluruh potensi individu (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosiokultural 9dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat) dan ebrlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dapat dikelompokkan dalam olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olah raga dan kinestetik (physical and kinesthetic development), serta olah rasa dan karsa (affective. Attitude and social development). Ke empat proses psikososial tersebut secara terpadu saling terkait dan saling melengkapi, yang bermuara pada pembentukan karakter yang menjadi perwujudan dari nilai-nilai luhur.
Pada kelompok olah pikir nilai inti yang dikembangkan adalah cerdas dan kreatif. Olah hati fokus pada soal kejujuran dan bertanggung jawab. Sedang bidang garapan olah rasa dan karsa adalah nilai kepedulian, gotong royong, dan suka menolong. Olah raga mengembangkan nilai hidup sehat dna budaya bersih.
Masing-masing kelompok atau kluster nilai luhur tersebut tidaklah terpisah secara tegas tetapi saling bersinggungan satu sama lain. Manakal empat lingkaran kluster tersebut berpotongan (intersection) dan bertemu dalam satu bidang, maka itulah kristalisasi nilai-nilai luhur dan perilaku berkarakter yang dicita-citakan bersama.
Pengelompokan nilai tersebut sangat berguna untuk kepentingan perencanaan. Dalam proses pembelajaran dan pembiasaan keempat kelompok nilai luhur tersebut akan terintegrasi melalui proses internalisasi dan personalisasi pada diri masing-masing individu.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi
Pendidikan karakter di perguruan tinggi merupakan tahapan pembentukan karakter yang tidak kalah pentingnya dari pembentukan karakter di tingkat sekolah. Pendidikan karakter di perguruan tinggi merupakan kelanjutan dari pendidikan karakter di persekolahan. Oleh karenaitu seharusnya setiap perguruan tinggi memiliki pola pembentukan karakter mahasiswa sesuai dengan visi, misi, karakteristik perguruan tinggi masing-masing. Pendidikan karakter di perguruan tinggi perlu di desain secara utuh. Artinya, pada saat mahasiswa memasuki wilayah baru sebagai mahasiswabaru, di fakultas, di program studi, di kegiatan organisasi kampus, sampailulus sebagai alumni semuanya harus didesain secara utuh.Buku ini dirancang sebagai salah satu upaya untukmengembangkan desain pendidikan karakter di perguruan tinggi khususnyadi lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia. Namun, tentunya bukuini belum mampu menampilkan desain utuh itu. Sebagai langkah awaldikembangkan pendidikan karakter melalui tiga model atau pendekatan,yaitu(1) meningkatkan kualitas perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan/PKn melalui inovasi pembelajaran berbasis  project citizen, (3) berbasispembinaan layanan bimbingan dan konseling baik melalui mata kuliahmaupun di luar perkuliahan, dan (3) melalui kuliah kerja nyata (KKN) tematiksebagai program kurikuler wajib. 12Pendidikan karakter melalui peningkatan kualitas perkuliahan PKndiarahkan bagaimana keaktifan mahasiwa dapat meningkat melalui tahapanpembelajaran dengan mendorong dan membangkitkan nilai-nilai dankarakter yang diharapkan muncul dari diri mahasiswa. Ini dapat dilakukanapabila tahapan perkuliahan PKn diarahkan kepada pengembangan potensimahasiswa.Pendidikan karakter melalui layanan bimbingan dan konseling baikdi dalam perkuliahan maupun di luar perkuliahan diarahkan untuk bagaimanamahasiswa itu mampu menyelesaikan masalah-masalah dirinya sendiridan kemudian masalah orang lain dengan tumbuhnya kesadaran akansegala potensi yang dimilikinya. Melalui berbagai pendekatan,game, danstrategi, potensi-potensi mahasiswa dapat dikembangkan secara maksimal,sehingga mahasiswa memiliki kepercayaan diri untuk berkembang.Pendidikan karakter melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematikdiarhkan bagaimana setiap tahapan KKN dapat membentuk karakter-karakter mahasiswa yang diperlukan untuk dapat melaksanakan programKKN dilokasi dengan berhasil. Tahapan KKN tematik dirancang denganbeberapa tahapan, yaitu tahapan persiapan di kampus dengan melakukandiklat, pelaksanaan program KKN di lokasi sesuai dengan tema KKN nya,pembimbingan, monitoring, seminar hasil KKN, dan menyusun laporankegiatan. Dengan tahapan-tahapan ini, KKN tematik dapat dijadikansebagai sarana untuk pembentukan karakter mahasiswa.

B.    Penguatan Karakter
Menurut Doni Koesoema dalam buku “Pendidikan Karakter” (2007) karakter dipahami dalam dua sisi, yaitu: pertama, karakter adalah kondisi bawaan sejak lahir dan manusia tidak dapat menolaknya. Kedua, karakter adalah kemampuan seorang individu untuk mampu menguasai kondisi-kondisi tersebut.
Dengan melihat karakter dari dua sisi tersebut maka karakter dalam diri seseorang bukanlah harga mati (statis) namun dapat berubah (dinamis). Kebebasan yang dimiliki manusia memungkinkan karakter berkembang menjadi baik dan bukan sebaliknya. Karakter juga berkaitan erat dengan “habit” atau kebiasaan yang terus menerus dipraktekkan dan dilakukan. Dengan demikian karakter bukan hasil/produk melainkan salah satu hasil usaha seseorang untuk mengatasi kondisi-kondisi tertentu.
Secara mendasar setiap tindakan manusia sebenarnya terkait dengan usaha untuk mempertahankan diri, memelihara, dan mengarah ke masa depan. Karakter yang dimiliki manusia sangat berperan saat pengambilan keputusan dan tindakan. Pribadi yang memiliki karakter yang baik dan dewasa akan mampu membuat serta mengambil keputusan dan tindakan yang baik (tepat) dengan motivasi yang baik pula. Mengingat bahwa tidak selalu seseorang yang berbuat baik dikarenakan memiliki motivasi yang baik atau berkarakter baik. Contohnya ada anak berbuat baik hanya karena takut dimarahi atau dihukum, atau supaya namanya baik, artinya belum berkarakter.
Setiap tindakan dan keputusan yang diambil oleh seorang manusia tentu tidak akan lepas pengaruhnya dengan kehidupan orang lain/masyarakat sekitar. Jika keputusan dan tindakan yang diambil baik, tentu akan berpengaruh baik pula untuk diri dan sekitarnya. Dengan demikian karakter selain bermuatan nilai-nilai moral selalu berkaitan dengan individu dan sosialnya. Kasus korupsi yang terjadi dalam berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara kita adalah bukti ketidakmatangan karakter kita sebagai bangsa.
C.    Pendidikan karakter
Dengan pemahaman bahwa karakter dalam diri seseorang bersifat dinamis dan sangat berperan dalam penentuan masa depan baik diri maupun lingkungan sosialnya, maka perlu adanya usaha pendidikan yang mampu mengembangkan karakter seseorang.
Tujuan dari pendidikan karakter adalah menempa individu untuk menjadi semakin sempurna, seluruh potensi-potensi yang ada dalam dirinya berkembang secara penuh sehingga membuat dirinya semakin manusiawi. Jika karakter seseorang berkembang dan semakin menjadi manusiawi berarti pribadi individu tersebut mampu berelasi dengan baik tidak hanya dengan dirinya namun juga dengan orang lain dan lingkungannya, tanpa harus kehilangan kebebasannya. Dengan demikian individu tersebut mampu membuat keputusan dan tindakan yang bertanggungjawab dan tidak mudah disetir oleh keadaan apapun atau terbawa oleh arus-arus negatif disekitarnya.
Maka dapat dikatakan pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal yang baik, sehingga peserta didik menjadi paham tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan nilai yang baik dan mau melakukannya.
Pendidikan karakter merupakan sebuah proses panjang bahkan seumur hidup, maka hasil dari proses tersebut belum dapat dirasakan saat itu juga seperti membalikkan telapak tangan. Usaha tersebut melibatkan semua pihak pendidik (keluarga, sekolah,masyarakat, bahkan pemerintah).
Dalam buku yang sama Doni Koesoema menawarkan beberapa pokok ajar dalam pendidikan karakter, yaitu: 1) Menanamkan semua keutamaan hidup dalam diri kaum muda, 2)Mengajarkan kemampuan menilai tentang banyak hal yang baik dan yang buruk secara adil (bukan hanya sekedar menjauhi hal-hal yang buruk, menerima yang baik, mencela hal-hal yang jelek, memuji hal-hal baik). Dengan menilai secara adil maka anak akan memiliki pemahaman yang benar dan terbawa dalam tindakannya. 3) Mengajarkan sikap ugahari (sikap ugahari: kemampuan mengaktualkan dan memuaskan dorongan-dorongan keinginan dalam diri serta tuntutan insting secara tepat dan seimbang) misal: berkaitan dengan makanan, saat istirahat/tidur/bangun, tahu kapan bicara dan kapan diam. 4) Mengajarkan sikap keteguhan (cara-cara mengalahkan diri sendiri, tahan menanggung kesulitan dan rasa tidak enak, optimis, tidak mudah mengeluh. 5) Mengajarkan bersikap adil berkaitan hidup bersama orang lain sebagai bentuk penghargaan pada hak orang lain. 6)Mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan yang membutuhkan kerja keras. Menjalankan tugas dengan semangat, kesungguhan hati. Maka kerja keras, capai, lelah, bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. 7) Mengajarkan kesiapsediaan melayani dan memikirkan orang lain. Kesadaran bahwa kita dilahirkan di dunia bukan semata-mata untuk diri sendiri melainkan untuk orang lain.
Masih sangat terbuka akan nilai-nilai keutamaan lain yang dapat diajarkan dalam pendidikan karakter ini, namun hal yang sangat mendasar bahwa pendidikan karakter bukan hanya sebuah teori maka diandaikan selalu ada keteladanan. Bagaimana mungkin pendidik mengajarkan cinta dan kejujuran jika hal tersebut tidak dihayati.
Menjadi hal yang sangat penting bahwa penanaman keutamaan dalam pendidikan karakter ini dilaksanakan sejak usia dini. Pendidikan karakter menjadi usaha yang sangat serasi untuk menghidupi pendidikan agama dalam usahanya membantu peserta didik menjadi pribadi yang merdeka dan bertanggung jawab atas diri dan sekitarnya. Demikian juga sebaliknya, pendidikan karakter akan sangat terdukung dengan tumbuh di dalam pribadi remaja dengan pilar-pilar agama yang termuat dalam pendidikan agama.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Fungsi Pendidikan karakter selain mengembangkan dan memperkuat potensi pribadi juga menyaring pengaruh dari luar yang akhirnya dapat membentuk karakter  yang dapat mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar baik melalui mata pelajaran maupun serangkaian kegiatan pengembangan diri yang dilakukan di kelas maupun luar . Pembiasaan-pembiasan (habituasi) dalam kehidupan, seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung-jawab dan sebagainya, perlu dimulai dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat.
Warga bangsa ini harus tetap berjuang untuk menuju tujuan bangsa ini yaitu menuju masyarakat adil dan makmur. Hal itu akan tercapai apabila karakter bangsa ini semakin baik.  Dunia perguruan tinggi  harus  tetap optimis, suatu ketika nanti pasti akan memetik hasil. Bukankah dulu di SD,SMP dan SMA juga ada pelajaran budi pekerti? Jelas pelajaran tersebut sangat terpuji, dapat membentuk etika anak yang sangat menghargai sopan santun, dan tata karma?  Baru akhir-akhir ini saja  banyak orang mempertanyakan tentang ketiadaan pelajaran budi pekerti?  Maka alangkah bermaknanya apabila pembelajaran pendidikan karakter dapat dilaksanakan bersama-sama oleh seluruh sivitas akademika dan warga kampus. Tentu harus dengan dukungan segenap anggota masyarakat.
B. Saran
Pendidikan  karakter  memang  sangatlah  penting  bagi  masa depan  setiap  manusia di dunia ini, dan pada usia muda/remaja kita lebih baik menggunakan waktu untuk belajar. Hasilnya pasti insan dan masyarakat berkarakter yang selalu berpikir positif sehingga selalu produktif dan bermartabat.

DAFTAR PUSTAKA

Wiarto, Edi Drajat dkk. 2010. Pendidikan Karakter Kumpulan Pengalaman Inspiratif. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Doni Koesoema A. 2007. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman
Global. Jakarta: Grasindo. Cet. I.

Pusat Kurikulum. (2009). Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter  Bangsa:Pedoman Sekolah. Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar